Hidup Dalam Pembapaan Rohani (Kesaksian Jonathan Erwin)

Sedikit saya mau membagikan sebuah kesaksian untuk betapa pentingnya seseorang harus ada di dalam Pembapaan.

Di dalam perjalanan kerohanian saya pribadi, saya seringkali merasa struggle sebelum menemukan dan terhubung dengan seorang Bapa Rohani. Yang disebabkan karena saya tidak yakin akan perjalanan dan masa depan saya, dan masih adanya bekas luka masa lalu yang menempel di dalam diri saya.

Saya berusaha mencari pola yang benar, karena di dalam batin saya berkata seharusnya kehidupan di dalam YESUS adalah kehidupan yang penuh dengan gairah, sukacita dan memiliki kehidupan ilahi. Tapi kenapa yang saya alami adalah hal yang sebaliknya.

Dalam masa pencarian, saya mengembara dari gereja satu ke gereja lain, dari persekutuan/komunitas satu kepada komunitas lain. Dan saya juga terhubung dari satu pendeta dan pembicara ke pendeta dan pembicara lain. Tapi saya tidak menemukan jawaban yang saya butuhkan, sekalipun saya juga sampai terlibat aktif dalam pelayanan.

Firman-firman yang saya terima sepertinya bocor dan terbuang begitu saja dan seperti tidak ada kehidupan ilahi. Padahal Alkitab jelas berkata bahwa kalo kita minum air kehidupan yang YESUS berikan maka dalam hati kita akan mengalirkan kehidupan, tetapi hal tersebut tidak saya rasakan. Bahkan kalau boleh dibilang yang saya terima adalah seperti kisah tentang seorang anak bungsu dalam cerita Alkitab, yang ada di dalam kandang babi.

Suatu kali, tiba-tiba ada Firman yg datang dalam hidup saya di dalam

Maleakhi 4 : 6 Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.

Dikatakan supaya TUHAN tidak memukul bumi dan musnah maka diperlukan kehadiran seorang Bapa Rohani. Dan dari Firman tersebut menggugah saya untuk mulai menyatakan kepada TUHAN bahwa saya butuh seorang Bapa Rohani supaya saya tidak binasa.

Di dalam pencarian saya untuk seorang bapa rohani, saya tidak langsung menemukan figur yang tepat untuk menjadi Bapa Rohani saya. Sempat juga mengalami yang dinamakan kekeliruan dalam mengambil keputusan dan langkah, tetapi saya berjalan terus dalam pencarian saya.

Suatu ketika, pada waktu yang telah Tuhan tetapkan, TUHAN mempertemukan saya dengan UTUSAN-NYA yang sekarang menjadi Bapa Rohani saya, yaitu Bpk. Timothy Parengkuan dan istrinya Ibu Maria.

Pertemuan saya dengan beliau bagi saya adalah pertemuan yang memang TUHAN sudah atur karena pada waktu itu saya seakan-akan dikondisikan untuk harus ada di Surabaya. Dan di Surabaya inilah ada seorang sahabat yang mengatur pertemuan antara saya dengan beliau.

Kemudian saya harus kembali ke tempat saya berdomisili. Dan di awal-awal pembapaan yang saya ikuti ada keputusan bulat yang saya ambil. Yaitu saya menghentikan untuk mendengar khotbah-khotbah dan membaca buku-buku rohani dari orang lain dan para pengkhotbah maupun penulis buku rohani lain. Dan yang saya lakukan adalah HANYA mendengar Firman dari Pak Timothy Parengkuan yang saya panggil dengan sebutan Daddy.

Tujuannya adalah supaya Firman yang saya dengar dari Bapa Rohani saya bisa benar-benar jadi dan tidak terbuang tapi menjadi Fondasi dalam hidup saya. Karena pengertian yang saya dapat adalah untuk saya memiliki bahasa budaya dan warna yang sama dengan apa yg ada pada Bapa Rohani saya. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa pelayanan seorang anak adalah memanifestasikan yang ada pada bapanya dan bagaimana seorang anak bisa memanifestasikan apa yang ada dalam diri sang bapa. Kalau sang anak tidak menjadikan Firman yang diterima dari sang bapa sbg fondasi, dan hanya dengan memasukkan Firman dari sang bapa tanpa tercampur dengan yang lain baru bisa dijadikan sebagai Fondasi.

Bagi saya keterhubungan bapa dan anak karena punya DNA yang sama. Karena itu sang bapa akan menularkan apa yang ada pada bapa kepada anak, sehingga cetak biru yg ada pada sang bapa bisa jadi di dalam diri sang anak.

Di dalam proses pembapaan yang saya ikuti di dalam diri bapa rohani saya yang saya panggil dengan Daddy Timmy, di situlah saya menemukan seorang figur dalam diri Daddy Timmy dan saya mulai meneladani kehidupan beliau dan juga dimana melalui beliau saya bisa terhubung dg KRISTUS secara nyata.

Melalui Firman-firman yang beliau berikan, yang menjadi makanan saya dan didikan yang Daddy Timmy dan Mommy Onna (istri dari Daddy Timmy) berikan kepada saya, untuk saya jadi seperti CETAK BIRU yang beliau berikan kepada saya dari yaitu untuk BENIH KEPUTRAAN KRISTUS YESUS itu benar-benar jadi pada saya. Di mana saya ikuti proses yang beliau berikan karena sebenarnya di dalam proses pembapaan beliau tidak memberikan apa yang saya inginkan tapi yang beliau berikan adalah untuk BENIH ILAHI yang TUHAN sudah taruh di dalam orang-orang KEPUNYAAN-NYA supaya jadi. Dan saya bisa merasakan bahwa perlahan tapi pasti saya bisa mengalami sedikit demi sedikit, identitas saya mengalami pemulihan.

Saya bisa mengetahui identitas saya mengalami pemulihan adalah ketika saya memperoleh jawaban dan pertumbuhan rohani dari pergumulan yang saya alami sebelumnya. Dan saya menjadi yakin akan masa depan dari perjalanan rohani yang saya jalani. Dan saya bisa melihat diri saya secara benar di dalam FIRMAN dan memiliki posisi rohani yang benar.

Dan ada banyak perubahan-perubahan yang saya alami, di mana saya bisa memunculkan respon yang benar dengan cara pikir, sikap hati. Cara saya melihat segala sesuatu bisa mengalami perubahan dan mengarah pada Firman. Sekalipun masalah tetap ada tapi cara saya menghadapi berbeda dan mulai masalah saya satu persatu dapat terselesaikan.

Pesan dari sharing saya adalah TEMUKAN Bapa Rohani yang sudah TUHAN tetapkan bagi setiap kita, dan ikuti proses dari pembapaan tersebut. Maka perlahan tapi pasti kita tidak akan meraba-raba dalam perjalanan kita, tapi kita akan mulai dapat berjalan secara pasti di dalam destiny dan masa depan yang TUHAN sudah sediakan bagi kita. Dan benih KEPUTRAAN yang adalah identitas kita yang sebenarnya akan benar-benar jadi di dalam kita.

Jonathan Erwin 

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *